Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2022

Tetap Sehat di Masa Pandemi

 Tetap Sehat di Masa Pandemi By: Sri Wuryaningsih Pandemi belum berakhir, bahkan omicron kabarnya lebih cepat penyebarannya. Banyak orang ,tetangga,teman dan saudara yang saat ini terserang batuk, pilek dan pusing. Tidak perlu dibawa panik, tetap tenang , bawa gembira dan senang. Serta tetap menjaga protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan di air mengalir, menjaga jarak, hindari kerumunan, berdoa Untuk menjaga stamina kita bisa menyiapkan ramuan berikut: Bahan  : _ madu 2 sendok makan - perasan jeruk 🍋, in syaa Allah aman     bagi yang lambungnya bermasalah. - garam sepucuk sendok makan ( jangan munjung) - air bisa hangat / dingin, 2/3 gelas mug Selamat mencoba, semoga kita selalu diberi Allah kesehatan dan kebahagiaan

Negeri Bagai Mimpi

 Negeri  Bagai Mimpi By : Sri Wuryaningsih Jauh di sana di suatu negeri Terkenal aman dan damai Jauh dari luka dan selalu berseri Negeri yang aman dan tentram Tanah subur sinar temaram Bagai emas putih Manikam Sawah ladang subur tiada mendekam Kicau  🐦 menyambut pagi Bersautan memecah bumi Mentaripun menyumbang semi Kaum pedagang tenang berdiri Mereka bergembira mengais rezeki Namun seperti mimpi Musibah melanda negeri Semua harus terisolasi Karena ulah segelintir jiwa atas nama Pandemi Keserakahan telah meracuni Tak peduli nyawa yang terzolimi Dua tahun terlewati , semua terkukung sepi Baru saja kembali namun tak berarti Karena mereka belum tersadari Keserakahan membuat lupa diri Mereka lupa mati Wahai para durjana Sadarlah sebelum ada sangkakala Menceraikanmu dengan dunia fana Jangan sampai kau terlena Sebelum ruh meninggalkan jasad Insyaflah  sebelum jasmani berubah wujud sadarlah  Sebelum izroil datang, taubatlah

Tersadar

 Tersadar By : Sri Wuryaningsih Aku yang terhentak Terbangun dan tersadar membuka tirai membuang mimpi menggapai asa menyambut pagi Ketika suasana dingin merasuk diri Ada rasa menyelimuti  membawa sejuta rasa hati Yang terbengkalai tanpa arti ku lewati jalan sepi Bersama embun pagi yang beresonansi Tanpa kata , diam dalam diri Begitu banyak waktu tersisa Terlewati tanpa karya Hanya angan dan duka melanda Bersama rinai hujan yang mempeson bayangan fatamorgana  menyusup melewati asa Yang hampir tersisa Bersama harap dan usaha Kini cahaya merah semburat pagi tiba membuka cakrawala  sedih tanpa tawa menjadi rona merah yang menerangi asa sebagai petunjuk langkah melepas duka Walau harus menunggu mentari Yang datang membuka diri namun jiwa tetap introspeksi sebagai langkah capai ridho Ilahi Depok, 8 Februari 2022

Senangnya Bertemu Denganmu

 Senangnya Bertemu Denganmu By : Sri Wuryaningsih Harusnya aku gembira karena bisa bertemu dengan sahabat lamaku. Persahabatan itu di mulai dari anakku yang pertama. Anak kami sama- sama bersekolah di SD1 Mampang Depok, Jakarta Barat. Pertemanan yang terjalin mengalir dengan begitu saja.Kami saling cocok satu sama lain, sehingga kami dahulu sering berbagi cerita. Lama sekali kami tak pertemu, lebih- lebih saat pandemi. Dulu kami sering berjumpa silaturahim, jarak rumah kami tidak terlalu jauh. Namun karena aku harus bekerja , jadi kami jarang bertemu. Terlebih di saat Pandemi kemarin, jarang sekali kami berkomunikasi. Hanya sesekali say hello. Dara, begitu aku memanggilnya. Orangnya baik dan supel. Seiring berjalannya waktu,tak terasa anak- anak kami sudah besar, dan menemukan pasangan hidup. Disinilah aku kembali bertemu tatap muka. Suatu kegembiraan dan kebahagiaan saat aku dihubungi karena ia ingin resepsi . Aku pun sangat gembira bertemu kembali. Ingin rasanya kupeluk dan kuciu...

Lelaki- lelaki Itu...

 Lelaki - lelaki itu... By : Sri Wuryaningsih Hari menjelang senja, angin bertiup membuat udara semakin dingin ,  disertai gerimis yang menambah suasana semakin mengajak manusia meringkuk atau menarik selimutnya. Tetapi semua itu mereka lawan, mereka tepis. Mereka dengan penuh semangat dan tanggungjawab, menyiapkan mantel  agar dapat menembus udara dingin disertai gerimis . Mereka harus berjuang demi anak dan isteri. Rupiah yang mereka dapat tidak seberapa . Kadang tidak sepadan dengan tempat yang harus mereka lewati. Tempat sempit atau lorong yang sepi mereka lalui demi mengambil atau mengantar pesanan pelanggan . Belum terkadang mereka harus melewati macet yang padat atau mengantri pesanan pelanggan Jalan setapak disepanjang kali ,rawan kecelakaan , jika tidak konsentrasi, belokan yang berkelok, sungguh perjuangan yang berat untuk mendapat tambahan rupiah pundi-pundi mereka. Badan penat karena habis bekerja seharian ( jika mereka para pencari tambahan) tidak dirasakan. ...