Desaku
"DESAKU" ( Sri Wuryaningsih) Langit pagi di ujung desa itu masih biru, seperti biasa. Tapi tak lagi sesemarak dulu. Udara yang dulu menyapa hidung dengan aroma tanah basah dan dedaunan kini digantikan bau solar dari truk pengangkut pasir yang mondar-mandir merusak jalan. Desaku, yang dahulu seperti alunan puisi di pagi hari, kini lebih mirip halaman koran berisi iklan-iklan kosong. Berisik, murahan, dan penuh janji. Lebih kurang delapan tahun aku tinggal di kampung ini bersama Emak, Bapak, adik-adik dan kakak-kakakku. Delapan tahun bukan waktu yang lama dibanding usiaku yang sebentar lagi akan menjalani masa pensiun, tetapi banyak kisah dan cerita yang tak akan terlupakan. Kebun ini juga yang telah membantu aku dan keluargaku dalam melanjutkan cita-cita dan impian hingga aku, kakak dan adikku dapat duduk di perguruan tinggi. Kebun ini pula yang menjadi kangen dan rinduku pada kampung halamanku. Kebun yang menjadi sekolah pertamaku tanpa papan tulis, tanpa seragam, hanya cang...

Komentar
Posting Komentar