Kebersamaan Yang di Rindu
Kebersamaan Yang di Rindu
By : Sri Wuryaningsih
Tidak terasa sudah pukul 09.55,berarti tugas mengajar sudah selesai .
Hampir saja aku lupa jika ada janji ingin bertemu temen .
Segera ku kemasi perlengkapan mengajar, laptop,pena tab, dan beberapa buku penunjang.
Sebelum meluncur ke Condet menemui Bu Endang ,aku mampir ke MTsN 4 Jakarta, salah satu tempat aku mengajar.
Di sini aku baru empat tahun, tetapi aku mencintai tempat ini dengan teman dan para siswa yang beragam.
Motor meluncur dengan nyantai melewati kendaraan yang sedang melintas. Dari balik punggung suami kadang ku perhatikan setiap kendaraan yang meluncur .
Bersama suami, menyusuri jalan Simatupang menuju Condet sangat mengasyikkan, sambil melihat pemandangan sepanjang jalan.
Kadang melewati taman jalan kadang gedung-gedung yang padat berjejer.
Sekolah Global Islami School adalah tempat yang akan ku tuju.
Walau pernah berkunjung, tetap minta bantuan Map, takut salah.
Ku buka Google Map, untuk mengetahui aplikasi canggih saat ini.
Roda dua itu mengikuti jalur dengan mulus bagai ski meluncur di salju Halmahera.
Hanya dalam beberapa menit ternyata aku dan suami sudah berapa di depan gedung yang berdiri kokoh dengan halaman parkir yang luas.
Tanpa hambatan sekali lagi aku dan suami memasuki pelataran. Nampak jajaran kursi biru yang berbaris dengan rapi .
Ku ambil gawai , jari menari di atas keyboard WA untuk memberi tau kepada Endang , seorang sahabat lama yang tak bersua karena covid.
Ku tunggu detik demi detik dengan rasa kagum, betapa bagus dan luas ladang para guru menebar ilmu .
Akhirnya datanglah sosok yang kutunggu. Wajah yang ku kangeni.
Ingin rasanya memeluk dan melepas rindu. Namun harus tahan emosi karena Pandemi yang belum bebas seratus persen.
Perbincangan berlanjut di meja cafe kecil di samping Primary School.
Es teh manis, roti bakar , ice cream roti dan sate taichan menemanirqj percengkeraman siang itu .Kami menikmati kebersamaan yang di rindu.
Dinginnya ice cream meluncur dengan lincah kedalam tenggorokan .Mengganjal perut yang mulai bernyanyi.
Sambil terus bercerita apa saja aktivitas selama Pandemi.Aku bercerita tentang Gernas Tastaka, Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika. Terobosan untuk menanamkan mengajarkan bernalar untuk para siswa Sekolah Dasar .
Juga aktivitas Bu Endang yang sibuk berbagi sayuran di penduduk kurang mampu di sekitar Pasar Minggu.
Dua hati yang searah , ingin rasanya kami bergerak menyusuri setiap pematang kebajikan yang terbentang.
Tak terasa Azan Zuhur berkumandang,rindu itu harus ku simpa lagi. Di samping mendung juga hari sudah siang, sehingga aku dan suami harus pulang. Rencana semulapun di pending .
Sampai jumpa lagi sobat, semoga Allah memudahkan kita untuk terus tumbuh dan bergerak.
Komentar
Posting Komentar