Kisah Bulan Purnama

 


By : Sri Wuryaningsih



Malam itu bulan bersinar dengan terang 

Udara malam terasa sejuk dan angin malam dengan genit menggelitik pori- pori menusuk sampai ke ujung kaki.Sepoian angin yang berbisik di balik dedaunan itu tidak mengurangi untuk mendengarkan Bapak bercerita.


Saya  ambil tikar lalu di gelar di atas permadani hijau hasil perjuangan setelah beberapa tahun. Ya rumput di halaman rumah tumbuh subur bak permadani.


Rumput Jepang itu Saya minta dari tetangga ketika pertama kali keluarga kami pindah ke Lampung.


Usia Saya saat itu (1980) baru berusia 13 tahun. Bapak memutuskan kami transmigrasi ke Lampung.

Demi merubah nasib menjadi lebih baik.


Saya menjunjung bibit Rumput Jepang yang masih mengandung tanah, agar tidak mati maka harus di angkat dengan tanah.


Setelah beberapa tahun rumput itu tumbuh subur, bak permadani hijau terbentang di hamparan tanah berukuran kurang lebih 6 m x 8m.


Malam itu bapak berkata, " Ning coba kamu perhatikan , di bulan itu ada gambar apa"

Saya pun berkata sesuai imajinasi saat itu.

" Ya Pak itu ada kayak gambar orang yang membentangkan tangannya ingin mengambil sesuatu"


Akhirnya bapak bercerita.

"Dulu ada seorang anak kecil di suruh ibunya membeli minyak. Sang Anak pergi membeli minyak tapi sayang  Si Anak tidak hati- hati. Saat membawa minyak ia tersandung batu , sehingga jatuhlah Ia.


Karena takut dimarahi ibunya, ia memeras tanah yang tertumpah minyak.


Saat meninggal ternyata tanah marah, maka ia tidak diterima oleh bumi maka diputuskan dikubur di bulan.



Maka jika bulan Purnama di bulan nampak seperti ada kuburan dan ada orang yang berdiri membentang tangan.




Jika teringat cerita itu, saya jadi berpikir kok ada ya orang ngarang cerita seperti itu. Gimana awalnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Pelantikan dan Pembacaan Sumpah Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia

Sawahku Tak Lagi Tersenyum

Fatamorgana Kesunyian