Perjuangan Antara Putriku dan RDM
Perjuangan Antara Putriku dan RDM
Part 1
(Catatan : Saat TV harus menemani Putriku yang sedang sakit dan menyelesaikan kewajibanku sebagai Guru)
By. Sri Wuryaningsih
Di tengah sibuknya mengisi RDM, aku mendapat hadiah dari Allah, Putri Sulung ku Irbah Zhafirah harus di opname karena ada sedikit masalah di hati.
Sebagai seorang ibu tentunya ingin selalu berada di sampingnya pada saat seperti ini. Tak seharipun aku tinggalkan putriku.
Saat ku dengar kabar Putriku, aku masih di sekolah, maka yang menempel di tubuhku itulah yang ku pake ke RS Zahirah.
Untuk pakaian tidak masalah , tetapi sepatu, harusnya sepatu kets atau yang sejenisnya. Namun karena saat itu aku sedang memakai sepatu ngajarl, jadilah saat di RS sepatu itu tetap ku pakai. Sebenarnya tidak masalah toh aku nyaman- nyaman saja. Tetapi jadi lucu aja menemani orang sakit pake sepatu tinggi.
Awalnya saat kerja ia lemes , sehingga harus di inpuse, setelah di inpuse kok belum ada perubahan, terpaksa ke IGD.
Dari hasil lab ternyata ada gangguan hati. SGPT SGOT identifikasi organ hati tinggi sekali mencapai angka 200 an , yang lazimnya harus di bawah 31.
Untuk memulihkan itu terpaksa harus
Opname. Namun setelah 4 hari di opname belum menunjukkan hasil yang memadai.
Karena keterbatasan fasilitas RS Zahirah, sementara putriku butuh alat dan obat yang lebih baik, maka harus di rujuk . setelah melalui berbagai pertimbangan, RS Tarakan menjadi rujukan. Karena di RS Tarakan obat lengkap.
Sebagai seorang guru aku masih mempunyai tugas menginput nilai siswa.
Maka aku harus pandai-pandai memanfaatkan waktu untuk menginputnya.
Setiap ada kesempatan ku manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Entah itu di IGD, di ruang tunggu atau di ruang pasien.
Setelah pindah ke RS Tarakan, kami harus transit di IGD sambil menunggu kamar kosong.
Ruangan yang berisi lebih kurang delapan bed sudah penuh pasien yang bernasib sama dengan putriku, menunggu.
Para petugas medis dengan sigap memberi tindakan bagi pasien.
Selesai tindakan dan kami selesai Sholat Dhuhur, makan, waktu ini tidak ku sia- siakan.
Di sini tersedia lantai berukuran lebih kurang 1 ,5 m X 8 m , sebagai tempat istirahat para penunggu pasien.
Sambil menunggu kamar kosong , putrikupun sedang istirahat, ku buka laptop.
Ku lanjutkan meng-input nilai di RDM ( Rapot Digital Madrasah).
Ku tak peduli para tenaga medis yang berseliweran, aku fokus mengisi rapot.
Sampai akhirnya semua pasien di pindah ke IGD Teratai, kecuali putriku.Karena masih menunggu IGD lowong.
Ternyata di RS Tarakan terdapat IGD Transit ( ruang pertama masuk IGD) dan IGD.
Setelah pasien di IGD mendapat kamar, maka pasien transit di bawa ke IGD.
Tibalah putriku pindah ke IGD, ternyata di sini pasien lebih padat. Dan nampak kurang menarik, karena banyak pasien penderita berbagai penyakit.
Di IGD kami mendapat posisi dekat kamar mandi yang hanya dibatasi hording sebagai titrai pemisah. Hi.h..mirip di pengungsian.
Setelah mendapat tempat di IGD, lagi- lagi aku mencuri waktu.
Saat ini kursi di depan IGD menjadi sasaran empuk sebagai tempat kerjaku melanjutkan input nilai.
Entah karena capek atau apa, dan sudah berapa lama aku menginput nilai, tiba- tiba rasa kantuk menyerangku.
Ku shut off laptop dan ku rebahkan tubuh ini, di bawah bed ditemani selembar tikar plastik.Di tempat yang sempit itu kami harus tidur berdua dengan putraku yang menemaniku di IGD.
Alhamdulillah ada putraku saat pindah dari IGD transit ke IGD, karena cukup repot juga saat pindahan.
Hari kedua di RS Tarakan ( berarti hari ke baru kami mendapat kamar.
Gardenia 5306 adalah kamar putriku selama masa pengobatan.
Bersambung
Komentar
Posting Komentar