Dalam Sunyinya Malam

 Dalam Sunyinya Malam


By: Sri Wuryaningsih




Suasana sepi tanpa suara, semua penduduk sudah berada di peraduan masing- masing.

Air hujan yang masih tergenang di lobang jalan yang tidak mulus menambah suasana semakin sunyi.


Aku , Agung dan Asep harus melintas jalan itu sepulang dari rumah Efi membuat video Part Dua Grammy Awward  .  Video persiapan lomba Guru Inspiratif yang di adakan Kantor Kementerian Agama.


Angin malam yang menembus di setiap gang menambah suasana malam semakin dingin.

Aku berlindung di balik jaket Agung, sehingga dingin malam tak terlalu merasuk. Semakin ke depan kurasakan suasana semakin senyap.


Apalagi saat Asep mengatakan ' Gung make map" , "Deg ...wah kenapa ini , apa Asep juga tak tau arah pulang"

Ku ambil gawai untuk mencari alamat, namun ku tak dapat menemukannya,  entah kenapa kok aku tidak menemukan icon map. Lalu ku minta Agung untuk mencari map arah pulang.


Dalam hening ku perhatikan jalan yang sedikit rusak di genangi air hujan sore.

Hatiku berbisik,"Ini jalanan sepi, banyak genangan air". Terngiang pula kata- kata Efi jika Bekasi suka ada begal. Tetapi aku tak menghiraukan kata-kata itu. Di tengah sedikit rasa cemas ,aku asyik memperhatikan air genangan menari karena di lewati beberapa kendaraan.


Angin malam 

 terasa menusuk tulang  menambah kesunyian semakin senyap. Dalam hening tak ada kata yang keluar dari bibir ini .Aku terpaku dalam bisu.


Aku tak tau apakah Agung juga merasakan was-was seperti yang aku rasakan.


Sempat timbul keraguan saat Asep dan aku tidak searah , aduh bagaiman aku hanya dengan Agung, sudah malam sepi . Untungnya Asep mengantar sampai Kranggan, agak tenang rasanya hatiku.


Setelah sampai persimpangan  ternyata kami berpisah. Aku dan Agung ke kiri , Asep ke kanan. Motor kami terus melaju mengikuti jalan, namun bingung setelah sampai pertigaan, map menunjukkan ke kiri tapi kami ragu. Alhamdulillah ada pedagang yang bisa kami tanya.

" Maaf Pak arah ke Depok kemana ya"

Ku perhatikan orang itu juga bingung kalau aku tanya arah Depok, akhirnya aku bertanya lagi "Kalau arah Taman Mini kemana" baru orang tersebut paham.


Wah ternyata jalan masih lengang juga, lumayan jauh , 2 KM  , jalan sepi ,gelap, habis hujan, hanya sesekali ada kendaraan lewat. Hatiku was- was .



Akhirnya napas panjang keluar setelah kami tiba di jalan yang ramai." Kenapa Bu," tanya Agung.

"Nggak papa, lega aja dah sampai tempat yang ramai" jawabku.


Apalagi setelah ku baca Marka jalan menunjukan tempat yang ku kenal.


Akhirnya sampai lah kami di depan Pasar Kranggan.

" Di belakang pasar ini , rumah Bu Sri  Is Gung" kataku.

" Jauh juga ya Bu "  jawab Agung

" Ya" kataku


'Guru tiga-tiga ternyata rumahnya jauh-jauh ya bu' kata Agung

"Ya' jawabku

" Dulu Bu Chus lebih jauh lagi, di Parung" jelas ku.

" Nah .. Pak Rudi dulu di sini Gung" katamu , setelah kami melintas sedikit jauh dari Pasar Kranggan.


Sampai di Kawasan Cibubur aku lebih tenang , apalagi Agung sudah paham kawasan ini. Dan ia sudah tahu jalan- jalan tikus. Karena pernah ada dosen yang tinggal di daerah ini.


" Kamu dah paham kan tempat ini,berarti map aku matikan ya " kataku sambil memasukkan gawai ke dalam tas .


'Walau kamu jauh masih muda, tetap aja ibu  lebih tenang ,karena ada anak laki, mungkin akan beda cerita kalau dalam kondisi ini  aku bersama wanita"


Perjalanan selanjutnya aku hanya duduk manis di belakang Agung, karena ia sudah mengetahui medan .

Sampai akhirnya kami melewati tempat yang betul- betul aku kenal, pertigaan MUI Depok.



Alhamdulillah akhirnya kami sampai tujuan dengan selamat.


Ha .ha ..ternyata beginilah cerita kalau malam- malam ke Bekasi.


Depok, 10 November 21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desaku

Prosesi Pelantikan dan Pembacaan Sumpah Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia

Sawahku Tak Lagi Tersenyum