Membaca Soedjatmoko dari Rumah dan Ingatan

 Membaca Soedjatmoko dari Rumah dan Ingatan 

(Sri Wuryaningsih)








Dengan KRL aku menuju  tempat " Membaca Soedjatmoko dari Rumah dan Ingatan"


Aku kebagian di sesi 11.00- 13.00

Namun sekitar pukul 08.20 aku sudah meluncur. 

Aku tidak ingin telat dan aku harus freepare jika  nyasar.


KRL berangkat dari Stasiun Depok Baru menuju Stasiun Juanda. 

Kali ini anak kedua yang mengantar ke Stasiun Depok Baru ( ' Alim Mubarak).

Tiba di stasiun setelah tep kartu, ku harus melewati lorong penyebrangan untuk arah Depok - Jakarta. Dengan setengah berlari aku melewati lorong karena kereta arah Jakarta - Kota sudah menunggu. Walau bisa saja jika telat di kereta ini ,aku menunggu kereta berikutnya. Tetapi itu tidak aku lakukan. Karena lebih baik aku sedikit berlari daripada menunggu kereta berikutnya.

Hanya beberapa menit setelah memasuki kereta, terdengar dari mikroskop kereta, "pintu segera ditutup" bertanda kereta segera berangkat.


Kereta meluncur ke arah kota,  pagi ini kereta tidak terlalu padat karena itu  aku dapat dengan leluasa menuju gerbong tempat wanita,  di gerbong paling belakang.


Setelah melewati beberapa Stasiun pondok Cina, Universitas Indonesia, Lenteng Agung Tanjung Barat ,Pasar Minggu Pasar Minggu Baru,  kalibata, Cawang ,Tebet , Manggarai Sudirman ,dan beberapa Stasiun lainnya tibalah di Stasiun Juanda.


Setelah melewati pintu keluar dan melewati beberapa anak tangga sampailah Aku di depan Stasiun Juanda untuk order ojek.


Tiga menit berselang ada notifikasi digadgetku bahwa ojek siap berangkat.


Ojek meluncur ke Jalan Tanjung nomor 18 Menteng Jakarta Pusat. Ternyata tempat yang aku tuju adalah sebuah kompleks dengan tempat yang tidak terlalu ramai momen ini kugunakan untuk membuat video.


Tibalah di tempat Jalan Tanjung nomor 18 ternyata sebuah rumah. Ya sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat pameran oleh Putri pemiliknya,  ini adalah rumah bapak Soedjatmoko, rumah  seorang pemikir Indonesia yang dijadikan tempat pameran benda-benda yang dimiliki oleh almarhum.


Aku hanya bisa memandangi rumah tersebut dari luar dan hanya foto selfie karena Sessi Aku dipukul 11.00 sampai 13.00.


Sambil menunggu tiba saatnya masuk pameran itu, aku sempatkan berfoto dan  menulis.


Halaman rumah yang cukup besar dengan pepohonan yang rimbun dan beberapa bangku yang terbuat dari kaleng serta papan menambah rumah ini nampak asri dan sejuk. Terdapat sebuah pohon mawar putih yang konon katanya di sinilah tempat almarhum Bapak Soedjatmoko berfoto ,  ternyata kembang mawar putih adalah kembang kesukaan almarhum , semoga Allah mengampuni dosa-dosanya menerima arwahnya dan dan amal ibadahnya serta melapangan kuburnya.


Ini giliran sessi aku untuk memasuki ruang pameran.Yaitu sebuah rumah besar .


Rumah Jalan Tanjung nomor 18 adalah rumah yang penuh kenangan dan sangat berarti  bagi keluarga almarhum Bapak Soedjatmoko. Di rumah inilah putra-putri alm . Soedjatmoko dididik untuk menjadi seorang yang peduli seorang yang mencintai tanah air (info ini aku dapatkan dari video yang sedang di pertunjukan).


Kita akan terkagum-kagum melihat koleksi almarhum Bapak sujatnoko beliau adalah seorang yang sangat rapih untuk mengarsipkan apa-apa yang menjadi miliknya yang menarik perhatianku adalah ternyata beliau biasa mengoleksikan bukunya dengan catatan layaknya sebuah perpustakaan di sana ada kartu perpustakaan yang berisi data buku,  layaknya sebuah katalog perpustakaan. Ini menunjukkan Jika Bapak Alm.Soedjatmoko selain pintar dalam memikirkan negeri, beliau juga orang yang paham dalam manajemen.


Sebelumnya aku tidak paham siapakah suyatmoko , ini juga yang menggelitik aku kenapa aku tertarik untuk hadir di pameran tersebut. Ternyata beliau adalah orang yang dibutuhkan oleh negeri ini , orang yang pintar dalam ekonomi, orang yang pikirannya dibutuhkan oleh negeri ini .  Begitu banyak dedikasinya ,orang yang hidup untuk kepentingan umat , wajar sehingga beliau banyak mendapatkan penghargaan dari presiden almarhum Bapak Soeharto.


Di bawah ini saya tulis ulang apa yang keluarga alm .tuliskan di salah satu banner pameran.


Dua hari setelah Soedjatmoko wafat koran Kompas menurunkan tajuk rencana dengan mengajukan sebuah pertanyaan (sekaligus berupaya menjawab)

"Apakah keunggulan dari Soedjatmoko sebagai pemikir?".

Sordjatmoko tertulis di tajuk rencana itu berpangkal tolak dari kemanusiaan yang kerakyatan dalam mengembangkan gagasan-gagasannya mengenai masyarakat, alam atau lingkungan hidup, ilmu dan teknologi serta pergaulan antar bangsa. Iya senantiasa seakan-akan memiliki intuisi intelektual untuk menangkap pertanda zaman dan lantas mengembangkannya dalam pemikiran-pemikiran yang mendahului zamannya atau yang lebih maju dari status quo zamannya.


Namun pameran arsip keluarga ini bukanlah sebuah upaya untuk memperlihatkan dan meraih kecemerlangan pikiran keluasan gagasan dan kepuasan pergaulan Soedjatmoko. Pameran ini hadir untuk melihat kembali bagaimana sebuah keluarga berupaya merawat kenangan sekaligus mengajak kita untuk " membaca "gagasan Soedjatmoko pada peringatan 100 tahun kelahirannya.


Keluarga sudjatmoko menyimpan banyak sekali arsip berupa dokumen foto, surat /korespondensi dan arsip lain yang jika ditelisik lebih lanjut akan berbicara lebih jauh melampaui perjalanan hidup seorang Soedjadmoko.  Kegemaran menyimpan (dan merapikan) arsip-arsip perjalanan Soedjatmok jauh hari mulai dilakukan oleh Ratmini Gandasubrata  istri 

sudjatmoko. Kegemaran yang mungkin sekaligus kesadaran dan pembayangan bahwa kelak arsip-arsip tersebut dapat kita baca untuk melihat bagaimana seorang intelektual hadir, tumbuh dan mencurahkan pikirannya untuk sebuah bangsa.


Sebagian dari arsip keluarga Soedjatmoko sudah dirapikan dan dikategorisasikan oleh Ratmini,  berdasarkan periodisasi perjalanan hidup Soedjatmoko  semisal foto-foto personal Siedjatmoko dari kecil,  foto-foto masa muda periode 1940 - 1960-an,  korespondensi Soedjatmoko dengan Soebadio dan Syahrir ( ketika beberapa anggota PSI ditangkap),  dokumen ketika menjabat Duta Besar RI untuk Amerika Serikat , paspor,  surat-surat tugas , arsip-arsip ketika menerima penghargaan Ramon Magsaysay dan lain-lain.


Pameran ini berangkat dari data arsip keluarga Soedjatmoko yang dirawat selama puluhan tahun .Arsip tersebut kemudian dipilah dikategorisasi ulang,  lalu dipajang mengikuti kondisi rumah keluarga Soejatmoko- tanpa mengalih pajangan dan perkakas pulang kerja hingga ruang keluarga. arsip-arsip yang ditampilkan hanya sebagian kecil dari arsip-arsip  lain yang disimpan oleh keluarga Soejadmoko .




Jakarta

Sabtu, 14 Januar 2023

Jalan Tanjung no.18,Menteng ,Jakarta pusat

13.30 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desaku

Prosesi Pelantikan dan Pembacaan Sumpah Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia

Sawahku Tak Lagi Tersenyum