Sepucuk Surat Untuk Sahabat Kecilku
Sepucuk Surat Untuk Sahabat Kecilku
By: Sri Wuryaningsih
Awal ku mengenalmu lewat WAG di kelas Pandemi.
Sebelumnya aku denger selintingan ada guru BK, sehingga aku tidak kaget jika ada anggota baru di group.
Untuk memudahkan komunikasi aku langsung simpan kontakmu.
Pada saat itu aku juga sedang menangani kasus siswa yang bermasalah pelajaran hafalan .
Maka kita saling japrian.
Semua berjalan normal dan biasa saja layaknya hubungan rekan kerja.
Akhir Agustus 2021, adalah awal PTM pertama, siswa yang masuk hanya 50%.
Dan di saat PTM inilah aku tau jika kau adalah guru termuda di sekolah. Engkau masih sangat muda seumuran anakku nomor dua .
Aku terbiasa jika ada guru yang lebih muda pasti ku panggil nama saja , kecuali jika di depan siswa baru ku panggil pak atau bu, termasuk kamu akupun sering memanggilmu hanya nama saja .
Beberapa hari kemudian baru ku tau jika tempat tinggalmu searah dengan ku. Hanya beda Lima menitan dengan motor, jarak rumah kita.
Entah bagaimana awalnya, kitapun menjadi sering bareng jika pulang. Sebenarnya ada rasa kurang enak jika hampir tiap hari aku harus bareng d denganmu. Semua sempat ku utarakan . Namun kau bilang tidak merepotkan karena kan kita searah .
Akhirnya hari- hariku pulang sekolah selalu bersamamu.
Sampai suatu hari , saat pulang , aku mengajakmu untuk mampir makan baso.
Aku yang selalu menyimpan setiap peristiwa di foto, maka jepret kita foto saat ngebaso dan share di group.Inilah awal dari cerita yang akhirnya berkepanjangan.
Ternyata respon di group, tak pernah kubayangkan sebelumnya. Mereka merespon, wah Caman(calon mantu) dan camer( calon mertua ) akur.
Sampai ramelah hari- hari selanjutnya semua teman menjadi kompor .
Ternyata entah kenapa semua aktivitasmu di sekolah kok terekam di alam bawah sadar ini. Kamu ternyata orang yang rajin, pintar dan bertanggungjawab.
Diam-diam terbesit untuk mendekatkanmu dengan putriku.
Kebersamaan yang kita lalui membuat aku semakin mengenalmu.
Kamu orang yang baik, rajin ,pintar , bertanggungjawab dan taat sholat.
Maka wajarlah jika aku jatuh cinta untuk menjodohkan mu dengan putriku, yang ku pikir putri ku belum punya kawan dekat.
Namun kamu merasa masih muda, masih ingin mencari ilmu sebanyak-banyaknya, dan merasa belum terpikir ke arah yang serius menjalin hubungan dengan wanita.
Aku selalu berusaha mendekatkanmu dengan putriku, dengan harapan akan saling kenal .
Belakangan aku baru tau jika putriku sudah mempunyai teman serius. Ya ..ternyata ...ya sudah jika memang kamu bukan jodohnya.
Semoga Allah memberi kemudahan dalam mencapai cita-cita mu. Salam sukses untuk mu.






Komentar
Posting Komentar