Di saat Mereka Berhalangann

Di Saat Mereka Berhalangan

( Sri Wuryaningsih)





Seperti biasa pembiasan dalam pembentukan karakter setiap Jumat di MTsN 33 Jakarta adalah Yassin , dan Dhuha.


Pagi- pagi beberapa guru berbaris , menyambut kedatangan siswa. Pagi yang ditemani udara sejuk dan hangatnya sinar matahari yang masih malu- malu menemani mereka menyongsong siswa.


Kami sambut calon- calon orang hebat penerus pemimpin negeri ini dengan senyum dan tanya.


Pukul 06.25 bel berbunyi tanda semua siswa harus berkumpul di masjid.

Dari petugas piket sudah terdengar peringatan agar seluruh siswa segera menempati tempat duduk di masjid.

Tak lupa piket mengingatkan agar mereka selalu cuci kaki sebelum masuk masjid.


Tidak semua siswi berkumpul di masjid, karena banyak yang berhalangan.

Karena kedatangan "Tamu bulanan".

Mereka dikumpulkan di lapangan untuk mengisi waktu luang.


Karena sebagian guru sudah mendampingi siswa di masjid, maka aku mendampingi mereka yang tidak sholat.


Berbagai kegiatan aku berikan. Ada tanya jawab tentang kepekaa bersikap, bermain pesan berantai, bermain tebak Matematika dan masih banyak lagi.


Setiap harinya selalu aku usahakan ada agenda yang berbeda, agar mereka tidak bosan. Dengan tujuan mereka tetap memperoleh ilmu walau sedikit.


Sebelum kegiatan dimulai , mereka harus mengisi absen, sudah berapa hari " Kedatangan tamu".


Semua siswi mengikuti setiap rangkaian 

Kegiatan . Ada yang fokus tetapi masih ada juga beberapa siswi yang kurang perhatian.


Hal itu saya anggap wajar selagi bisa terkendali. Itulah salah satu tugas guru, mendidik dan mengarahkan.


Pada kesempatan ini, kadang di isi dengan permainan pesan berantai .

Pada permainan ini siswi dilatih tentang tanggungjawab, fokus dan kerjasama.

Dan permainan lainnya pada tanggal yang berbeda.


Semoga sedikit ilmu yang mereka terima di tengah jiwa yang sedang berkembang dapat bermanfaat




Jakarta

,

 Selasa , 29 Agustus 23

10.04




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desaku

Prosesi Pelantikan dan Pembacaan Sumpah Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia

Sawahku Tak Lagi Tersenyum