Cerita Pembuatan Best Practice yang Belum Selesai

 Cerita Pembuatan  Best Practice yang Belum Selesai 

( Sri Wuryaningsih)












Saat ada info Pendampingan Best Practice, aku langsung daftar karena pengen kepoin tentang Best Practice.


Walau sudah sering mendengar tentang Best Practice dan sempat ikut pelatihan, jujur aku masih kurang paham, bagaimana sebenarnya membuat Best Practice.


Walaupun katanya Best Practice itu adalah hal- hal yang sudah kita lakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran.


Kalau itu arti Best Practice hal ini sudah sering saya lakukan, karena setiap memberi materi selalu saya lakukan atau saya dapatkan hal- hal baru untuk menghadapi kesulitan belajar siswa.


Beberapa contoh ( ini sudah saya kerjakan jauh sebelum istilah Best Practice ngebuming)

1. Ketika dalam pembelajaran luas bangun ruang. 

Dalam menerangkan rumus- rumus Bangun Ruang , saya tidak langsung memberi tahu ini lho rumus misal luas kubus.


Yang saya lakukan adalah setiap siswa saya suruh membawa kardus. Kemudian saya perintahkan untuk mengukur berapa panjang, tinggi dan lebar kardus .

Lalu mereka saya suruh menghitung berapa luas tiap sisi kardus. Sambil kita stimulas apa rumus luas persegi, karena sisi kubus berbentuk persegi.

Nah ...mereka tahu dong berapa sisi kubus. Ada berapa persegi dalam kubus. 


Sambil mereka praktek menghitung, kita arahkan nalar mereka. Karena ada 6 sisi berarti luas kubus 6x sisi x sisi .

Sehingga L kubus = 6. s.s


Namun sebelumnya kita ingatkan juga kepada siswa apa itu sisi persegi apa itu sisi kubus.

Demikian juga untuk Bangun Ruang lainnya.


Itu saya lakukan di setiap materi yang saya ajarkan. Dengan bantuan bahan atau alat disekitar kita 


Saya tidak tahu jika itu di istilahkan sebagai Best Practice.

Saya melakukan itu hanya berpikir supaya siswa paham dan enjoy karena belajar sambil praktek atau bermain.


Contoh lain dalam materi Ketidaksamaan Segitiga. 

Saya menyuruh para siswa membawa lidi untuk membuat Segitiga, sehingga akhirnya mereka dapat menyimpulkan sendiri bagaimana aturan ukuran panjang lidi yang dapat membentuk sebuah Segitiga.

Mereka akan tahu dengan sendirinya, ternyata jika ada tiga lidi dengan ukuran berbeda belum tentu dapat dibuat segitiga, ada aturannya. Nah mereka dapat simpulkan dari pengalaman mereka.


Jadi kita benar-benar mengajarkan mereka agar mengait - ngaitkan apa yang mereka kerjakan.


Kalau hanya itu sekedar pengertian Best Practice,  ya Alhamdulillah sudah saya lakukan.


Namun ternyata untuk menjadi sebuah laporan atau lomba, kita harus menuliskan latar belakang, kata pengantar, mengapa kita menggunakan cara atau metode itu .


Ini yang membuat saya pusing.

Walau sudah dipaparkan ini lho isi  kata pengantar, pendahuluan, daftar isi dan lain-lain.

Tetap saja saya merasa kesulitan untuk menuliskan apa yang saya kerjakan.


Namun setelah daftar lho...kok... ternyata Best Practice ini untuk dilombakan. 


Waduh ... bagaimana ini 

Tapi sudahlah aku akan mencoba.


Namun sudah satu pekan dari pelatihan, saya belum menemukan ide harus menulis apa, kecuali baru biodata dan kata pengantar.


Tapi aku tak boleh putus asa , aku harus mencoba. Semoga Allah menolong ku. Memberi kelancaran serta kemudahan dalam menyusun Best Practice yang akan dilombakan.


Aamiin ya Allah.



( Coretan pagi, pusing belum selesai membuat Best Practice)


Depok , 28 September 24 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Pelantikan dan Pembacaan Sumpah Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia

Sawahku Tak Lagi Tersenyum

Fatamorgana Kesunyian