Surga yang Dirindukan

 

Surga yang Dirindukan
( Sri Wuryaningsih)









Entah kapan aku mencuci rambut emak. Hari ini aku keramasin rambut emak yang masih panjang walau sudah tak setebal ketika kami anak-anaknya masih kecil..

Ya emak yang dulu gagah berjuang membesarkan kami bertujuh ( anak ibuku ada 10
1. Agus Suparlan
2. Ambyar Soedjadi ( wafat diusia 5 tahunan)
3. Djoko Soediro
4. Danu Riyanto
5. Sri Wuryaningsih
6. Ani Suryati
7. Wahyudi
8. Yuliani Wahyuningsih
9. Sungkono Hadi Wardoyo (wafat diusia 1 tahun)
10. Siwi Pusposari
Sementara seorang adikku (8) dirawat paman dari ibu yang tidak diberi keturunan) sehingga total anak ibuku yang di rumah ada 7 orang.

Walau bapak seorang pegawai pemerintah tetapi emak tetap bekerja keras untuk menghidupi dan membiayai pendidikan anak- anaknya.
Apalagi gaji pegawai pemerintah saat itu jauh dari sejahtera.

Sejak muda emak adalah orang yang tangguh, ulet dan pekerja keras.
Jam 2 dini hari sudah ke pasar , belanja untuk dijual .
Ada saatnya tidak berjualan sayur tetapi jualan makanan kampung seperti lontong, combro, misro yang dijajakan oleh kami , anak- anaknya.

Jika sedang membuat lontong dan teman -temannya maka sejak siang, emak sudah sibuk, memarut singkong dan membungkus lontong.
Makanan itu dijajakan oleh kakak nomor Mas Joko , keliling kampung menggunakan tambah yang ditaruh di atas kepala.

Emak juga yang memikirkan pendidikan kami. Kami sekolah, emak yang mendaftarkan. Emak selalu giat bekerja dan ulet memperjuangkan pendidikan anak- anaknya meski harus berhutang ke sana-sini.
Tapi walau berhutang, emak selalu menepati janjinya. Ada nasehat khusus dari emak tentang perihal utang. Macan dilihat dari belangnya , manusia dilihat dari ucapannya.
Artinya jika kamu berjanji jangan sampai diingkari.
Kalau kamu janji bayar utang tanggal 5 ya tanggal 5 dibayar, bagaimanapun caranya.

Dalam keadaan serba kekurangan emak masih sempat saja berbagi.
Aku masih ingat saat usiaku masih dibawa 8 tahunan, ada kakak beradik mengemis, emak mempersilahkan mereka singgah di gubuk kami dan memberi mereka makan. Entah apa makanan yang emakku berikan pada mereka. Aku masih kecil jadi aku tak peduli . Tetapi ingatan itu masih melekat dalam memori ingatanku.
Dan di dalam keadaan serba kekurangan juga, karena aku pikir tak layak jika disebut sederhana. Karena aku masih ingat bagaimana buruknya kondisi tempat tinggal kami. Emak masih juga menampung beberapa saudara dari Yogya untuk tinggal bersama kami.

Setelah kami dewasa , kami semua terpencar menjalani hidup masing-masing. Kecuali adikku no. 6 dan 7, mereka diberi Allah kesempatan merawat emak .
Kini di usia 84 tahun emak Alhamdulillah masih sehat. Walau jalan sudah tak segagah dulu .Ingin rasanya aku selalu berada di sisi emak, tetapi tidak mungkin. Karena aku dan suami serta anak- anak mempunyai kegiatan di Depok sementara emak lebih suka tinggal di Lampung daripada tinggal bersamaku .

Sehingga jika ada kesempatan untuk menjenguk emak aku gunakan kesempatan itu sebisa mungkin.

Seperti liburan semester ganjil di tahun ajaran 2024/ 2025 , aku pulang untuk menjenguk emak. Walau hanya 3 malam, Alhamdulillah aku bisa menemani emak.

Terima kasih adik- adik hebatku ( Ani dan Yudi)  telah menjaga dan merawat emak dengan sabar dan telaten.Bahagianya bisa menjaga surga yang dirindukan.
Dua saudara ku ini sudah puluhan tahun melayani emak. Apalagi kini emak sudah sepuh ,  harus sabar karena emak sudah tak segagah dulu.
Sebetulnya aku iri pada mereka, karena dapat menjaga dan menemani surga yang dinantikan. Emak adalah surga kami.

Hanya doa yang dapat kulantunkan disetiap sholatku. Semoga emak selalu sehat, diberi kekuatan untuk beribadah yang terbaik dan aku dapat membahagiakan emak. Aamiin

Lampung,
Mulia Kencono , 3 Januari 2025
02.10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desaku

Prosesi Pelantikan dan Pembacaan Sumpah Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia

Sawahku Tak Lagi Tersenyum