Menjenguk Endang

 Menjenguk Endang

(Sri Wuryaningsih)







Jakarta, 13 Januari 25



Setelah selesai mendampingi kelas yang ikut Latihan KMNR di 9.2 aku bergegas untuk menjenguk sahabat yang di operasi tangannya karena kecelakaan kerja di sekolah.


Rumah sakit Sukoyo Kemenham, rumah sakit yang baru saya dengar. Coba Googling , ternyata di daerah Bintaro. Akses ke sini kalau menggunakan KRL agak susah karena harus turun naik kereta. Hari sudah mulai sore. Setelah menghitung berbagai pertimbangan maka yang tercepat adalah ojek online.


Segera ku order  ojol tujuan RS Sukoyo Kemenham, Alhamdulillah dapat 4 menit tiba.


Cepat- cepat aku berkemas. 

Karena waktu baru menunjukkan pukul 05.06 sementara jika hari Jum'at pulang pukul 15.30, aku minta tolong teman untuk absen dengan alasan menjenguk orang sakit .

Karena jika sorean sedikit akan macet.


Alhamdulillah perjalanan lancar. Motor melintas ke arah Ragunan, Fatmawati, Pedex , terus ke arah Kebayoran, di beberapa titik sudah mulai tampak jika akan ada kemacetan  , tetapi Alhamdulillah semua dapat dilewati sehingga tak lama kemudian aku sudah tiba di RS Sukoyo Kemenham.


Setelah turun dari ojek kupandangi sekeliling. Nampak ada mini market . Di depan rumah sakit.Ok aku mampir sebentar. Sekedar membeli tentengan.


Selesai dari mini market aku menyebrang dan menuju gedung megah yang nampak di hadapan.

Tertulis dengan jelas RS Sukoyo Kementerian Pertahanan .


Aku bertanya kepada security "Maaf mas dimana kamar 1408 " 

"Oh disebelah sana bu, di gedung baru , sambil ia menunjuk gedung di sebelah kanan"


Akupun mengikuti arahnya. Namun setiba di depan gedung, aku masih agak bingung.

Ada jalan  mobil ke arah atas , yang di bawahnya ada parkiran motor. " Saya harus milih kemana. Kalau ke atas takut menuju parkiran mobil, kalau ke bawah nanti hanya parkiran motor.

Setelah bolak- balik, akhirnya aku melihat jika ada tangga yang mengarah ke atas, dan analisaku , pasti tangga itu akan ke atas tempat parkir mobil.

Maka akupun memilih untuk melewati jalan mobil. Dan ternyata prediksiku tepat. Karena di atas aku melihat sepasang suami istri yang tadi ku lihat di bawah.


Tepat di sebelah kiri baru nampak pintu masuk rumah sakit. Segera aku memasuki rumah sakit, dan bertanya pada office boy yang sedang membersihkan lantai. " Maaf mas dimana kamar 1408" 

"Oh ada di sebelah sana sambil ia menunjuk ke kanan, tapi ibu harus lapor dulu ke akses"

"Baik terimakasih".


Lalu aku menghampiri meja akses.

" Permisi, maaf pak saya ingin ke kamar 1408" tanya ku kepada seseorang yang bertugas.

"Tujuannya apa bu" tanya petugas.

" Saya ingin jenguk"

" Oh jam jenguk nanti bu jam 17.00  dan tadi pagi jam 11" jelas petugas.

"Ya jam 17.00 "

"Jam 17.00 sore amat kapan saya pulang, rumah jauh " bisik hatiku.


Akhirnya ku wa sahabatku"Aku sudah di rumah sakit"

"Oh y sudah tunggu nanti suami jemput".


Sambil menunggu suami teman menjemput ku, aku perhatikan sekeliling RS , " Ini rumah sakit kok serasa bukan di Jakarta, auranya seperti di daerah" .


Ku ambil gadget dan klik ku ambil gambar di depan resepsionis " Rumah Sakit Sukoyo Kementerian Pertahanan RI" 

Benar aku baru tahu kalau ada rumahe sakit ini. Gedungnya cukup bagus .


Lalu aku mengambil posisi duduk di deretan ruang tunggu.

Beberapa kali aku melihat jam tangan , "Kok suami temankunbelum kelihatan ya"

Beberapa menit kemudian datanglah ia 


Kami langsung menuju lift dan ke lantai 14. Aku hanya mengekor kemana suami temanku berjalan.

Akhirnya tibalah di ruang dimana sahabatku terbaring di tempat tidur, paska operasi. Dengan rasa haru kami berpelukan. " Ya Allah ga nyangka kalau kamu bakal patah tangan, wong 

 kemarin baik- baik saja"


Itulah qodarullah kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.


Karena hari sudah pukul 16.06 ( kalau tidak salah) akupun buru- buru izin untuk Ashar. 


Wah ternyata suasana rumah sakit cukup nyaman. Kamar temanku pas di pinggir, view-nya indah , serasa di Puncak . "Ini di hotel apa rumah sakit" gurau ku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desaku

Prosesi Pelantikan dan Pembacaan Sumpah Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia

Sawahku Tak Lagi Tersenyum