Desaku
"DESAKU"
( Sri Wuryaningsih)
Langit pagi di ujung desa itu masih biru, seperti biasa. Tapi tak lagi sesemarak dulu. Udara yang dulu menyapa hidung dengan aroma tanah basah dan dedaunan kini digantikan bau solar dari truk pengangkut pasir yang mondar-mandir merusak jalan. Desaku, yang dahulu seperti alunan puisi di pagi hari, kini lebih mirip halaman koran berisi iklan-iklan kosong. Berisik, murahan, dan penuh janji.
Lebih kurang delapan tahun aku tinggal di kampung ini bersama Emak, Bapak, adik-adik dan kakak-kakakku. Delapan tahun bukan waktu yang lama dibanding usiaku yang sebentar lagi akan menjalani masa pensiun, tetapi banyak kisah dan cerita yang tak akan terlupakan.
Kebun ini juga yang telah membantu aku dan keluargaku dalam melanjutkan cita-cita dan impian hingga aku, kakak dan adikku dapat duduk di perguruan tinggi. Kebun ini pula yang menjadi kangen dan rinduku pada kampung halamanku. Kebun yang menjadi sekolah pertamaku tanpa papan tulis, tanpa seragam, hanya cangkul, lumpur, dan peluh yang tulus.
Di tempat ini kami belajar bagaimana menghasilkan nasi. Mencangkul, mengoret, menuai, menumbuk padi, semua dilakukan bersama dan bergotong royong. Tempat menanam jagung, kacang, rambutan, mangga, cabe, terong, jahe, kunyit, singkong, sirsak, jengkol, pete, kedondong, nangka, cempedak dan tanaman lainnya. Tempat di mana kebersamaan dan kesederhanaan hidup berdampingan seperti dua helai daun yang tumbuh dari ranting yang sama.
Sesekali atau ketika Hari Raya aku ke desa untuk menjenguk emak yang tinggal bersama kedua adikku Ambar dan Yudha, karena bapak sudah sejak tahun 2016 telah meninggalkan kami . Hampir tiga dekade aku habiskan hidup di kota. Sebentar lagi pensiun, dan aku ingin kembali menjejaki akar yang pernah kutinggalkan. Tapi desa yang kutemui bukan lagi desa yang ramai dengan cerita- cerita yang keluar dari mulut mungil yang lucu . Desa ini kini hanya ditempati oleh sebagian para orangtua yang sudah sepuh dan terkadang ada yang ditemani anak atau cucu yang masih bergelut dengan hidup di pedesaan. Namun sebagian besar sudah pindah ke provinsi lain karena mempunyai keluarga sendiri .
Pohon rambutan di sekitar rumah sudah ditebangi karena dianggap batuk jika memakan rambutan, atau tak ada yang menampung jika panen.
Kini
di kampung sudah PT yang menanam nanas atau tebu secara besar-besaran, dan sebagian penduduk menjadi buruh di sana. Sehingga jalan yang dulu sepi kini sering dilewati truk mengangkut hasil panen. Namun sayang pengakutan hasil panen tidak diiringi dengan peningkatan infrastruktur. Kalaupun ada hanya dalam hitungan setahun atau dua tahun sudah banyak jalan berlubang.
Anak-anak tak lagi berlarian galasi , mereka sibuk menunduk pada layar-layar kecil, tertawa tanpa suara, menangis tanpa air mata.
Dulu, sawah adalah tempat anak-anak belajar ketekunan, kehati- hatian. Karena untuk memotong jalan ke sekolah harus melewati pematang sawah. Kami harus hati- hati , takut terpeleset , apalagi jika hari habis hujan . Perjalanan harus menyeberang sungai kecil dengan jembatan batang pohon kelapa.Kini, sawah sudah banyak yang tidak digarap bahkan sudah penuh semak - belukar. Karena sudah tak ada lagi generasi yang tahan bau lumpur dan lebih memilih parfum kantor. Tanah ladangpun banyak yang terbengkelai.
Penduduk yang masih tinggal di sana hanya menanam singkong dengan harapan dapat meningkatkan taraf perekonomian, namun sekali lagi semua tinggal miimpi karena para tengkulak hanya mau membeli dengan harga tidak manusiawi. Sehingga beberapa petani membiarkan singkong- singkong itu begitu saja daripada dijual tetapi penghasilan tak sebanding dengan kerja keras mereka. Dan semoga pemerintah setempat dapat segera bertindak untuk mengatasi permasalahan ini.
Desaku kini semakin sepi . Hanya beberapa penduduk yang nampak menggarap ladang dengan cangkul dan koret.
Banyak rumah yang dulu sempat dibangun ditinggalkan ke kota begitu saja oleh penghuninya.
Ada bendungan yang menjadi proyek wisata itupun sepi pengunjung, hanya pada event - event di datangi pengunjung.semua tampak cantik di media sosial. Tapi jika kau singgah , sunyinya terasa menakutkan. Tak ada suara riuh warga bergotong royong membersihkan jalan. Tak ada lagi emak-emak yang menjemur padi atau jagung sambil bergosip sehat. Yang ada hanya pintu-pintu jarang penghuni.
"Kampung itu kini sudah nampak membaik " karena sudah ada gerbang jalan masuk. Namun tetap saja hanya sepi berteman dingin malam yang menemani.
Ada gardu yang digunakan untuk ronda agar malam tak terlalu senyap.
Sebuah spanduk terpampang
"Selamat Datang di Desa Mandiri Digital"
Aku hanya tersenyum getir. Di balik spanduk itu, Emak yang dulu suka duduk sambil membersihkan biji kapuk , kini hanya bisa duduk di beranda, meraba waktu yang semakin asing baginya. Tangannya tak lagi kuat menumbuk padi, tetapi hatinya masih bergetar melihat desa yang perlahan kehilangan jiwanya.
"Dulu, kita saling meminjam gula dan garam," gumam Emak. "Sekarang, saling menuduh di grup WhatsApp RT."
Aku menahan tawa dan tangis dalam waktu yang sama.
*PENUTUP dan PESAN MORAL*
Kini desa itu menjadi tujuan pulang kampung jika liburan tiba. Tapi rasanya tak lagi pulang jika rumah tak lagi memeluk. Kami hanya datang untuk mengisi keheningan orang tua, lalu pergi sebelum fajar meninggi.
Sungguh, aku rindu desa yang dulu. Desa yang mengajarkan arti cukup. Arti syukur. Arti bekerja bukan untuk pamer, tapi untuk bertahan hidup bersama.
Kini, anak-anak desa lebih ingin jadi selebgram daripada petani. Mereka lebih hafal nama-nama artis daripada musim tanam. Sedangkan sawah, hanya menjadi cerita masa lalu.
Desaku,
Kau bukan hanya tempat lahir, tapi rumah bagi jiwaku. Tapi jika rumah sudah tak lagi menerima, di mana lagi kita akan pulang?
Kadang, kemajuan adalah kamuflase. Ia menyamar sebagai harapan, tapi membawa kehampaan.
Pesan moralnya sederhana:
Jangan biarkan akar kita tercabut oleh ilusi daun-daun plastik bernama modernitas. Karena sesungguhnya, yang tampak gemerlap belum tentu memberi teduh. Dan yang tampak sederhana, justru menyimpan kehidupan.





Komentar
Posting Komentar